Tips Berkebun Selama Pandemi, Sebagai Solusi Ketahanan Pangan Keluarga

Oleh PlantStory
/
Tips Berkebun Selama Pandemi, Sebagai Solusi Ketahanan Pangan Keluarga

Ini adalah catatan acara sharing Teras Mitra (@terasmitra) ke 86 dengan tema: “Urban Farming, Solusi Ketahanan Pangan Keluarga Di Masa Pandemi” yang telah diselenggarakan pada tanggal 13 Februari 2021 pukul 10.00-12.00 WIB via Zoom.

Narasumber:

  1. Anis Hidayah (@anishiedayah) – Pendiri Rumah Organik Studio Alam Indah (ROSAI)
  2. Gede Mantrayasa – Penggiat Kebun Berdaya (@kebunberdaya)
  3. Sita Pujianto (@sitapujianto) – Urban Farmer

Penanggap:
Warid S.P., M.Si (@waridizm) – Kepala Prodi Agroekoteknologi Universitas Trilogi Jakarta

Moderator:
Ika Satyasari (@satyaikasari) – DeTara Foundation

Anis Hidayah – Pendiri Rumah Organik Studio Alam Indah (ROSAI)

1. Urban Farming sebagai Jalan Keluar Ketahanan Pangan Sehat

ROSAI (Rumah Organik Studio Alam Indah) merupakan komunitas organik di Perumahan Studio Alam Indah, Depok yang dibentuk pada bulan September 2019. Beranggotakan sekitar 60 warga perumahan sejak Februari 2019. Aktivitas dari ROSAI antara lain: bertanam, komposting, pilah sampah, penguatan kapasitas, pasar organik, berbagi organik dan benih. Selain itu juga ada pasar keliling sesuai hasil panen. ROSAI sendiri saat ini sedang dalam proses editing buku dengan judul “Revolusi Pangan dari Kebun Sendiri”. Saat ini ROSAI juga mulai belajar membuat tempe organik.

2. Mengapa Menjadi Urban Farmer?

Mengapa harus menjadi urban farmer? Kita menjadi urban farmer, karena:

  1. Mengkonsumsi buah dan sayuran yang mengandung banyak residu dari pestisida dan pupuk kimia mungkin tak cepat dirasakan, namun efek buruknya pasti akan datang.
  2. Kita pastikan yang kita tanam benar-benar organik. Untuk itu kita perlu turun tangan sendiri, bukan hanya mengandalkan brand organik.
  3. Berkontribusi merawat bumi dengan memanfaatkan yang tersisa.
  4. Kompos merupakan salah satu prasyarat untuk bertanam organik yang murah dan mudah. Sejak mengompos, volume sampah di rumah berkurang hingga 75%.

3. Dampak dan Manfaat Urban Farming

Beberapa dampak dan manfaat urban farming yang bisa dirasakan antara lain:

  1. Menyediakan “lumbung pangan hidup” yang lebih sehat bagi keluarga.
  2. Satu tahap menuju ketahanan pangan.
  3. Menekan pengeluaran/belanja rumah tangga.
  4. Kebun menjadi ruang dialog/diskusi antar anggota keluarga.
  5. Instrumen yang efektif untuk healing dan sumber kebahagiaan baru.
  6. Mencegah KDRT.
  7. Ruang dialog antar agama dan mencegah fundalisme dari akar rumput.
  8. Menguatkan budaya solidaritas: saling berbagi (benih, hasil panen) dengan anggota komunitas.
  9. Pariwisata alternatif.

Gede Mantrayasa – Penggiat Kebun Berdaya

1. Gerakan Banjar Berdaya Melalui Kebun Berdaya

Awalnya Bli Mantra bukan seorang petani, tapi pengurus Banjar (setingkat RT). Namun pandemi ini sangat berdampak sekali, terutama di Bali yang sangat mengandalkan pariwisata dan kebanyakan juga pendatang. Selama pandemi ini harus berusaha menyediakan pangan sendiri, jadi mulai dengan berkebun dan budidaya ikan dengan lahan yang terbatas.

Bli Mantra mulai mengajak warga agar masyarakat bisa melakukan kegiatan berkebun organik atau hidroponik dan juga budidaya lele sendiri. Ajakan ini dimulai dengan pemahaman bahwa kalau mau berdaya harus mulai bersama-sama dengan gotong royong.

2. Memanfaatkan “Lahan-lahan Tidur”

Di Denpasar banyak sekali “lahan tidur”, yaitu lahan kosong yang tidak tahu pemiliknya di mana dan biasanya dijadikan tempat pembuangan sampah. Jadi di Banjar ada peraturan bahwa kalau ada lahan tidur yang tidak terawat, maka Banjar punya hak untuk memanfaatkannya.

Lahan-lahan tidur ini yang awalnya dijadikan tempat sampah, akhirnya menjadi kebun. Dulunya hanya 1 tempat, kini ada 6 Kebun Berdaya yang diprakarsai oleh komunitas-komunitas. Dimulai dengan menyemai, bahwa semua yang kita tanam bisa berasal dari yang kita makan. Setelah beberapa waktu, kegiatan Kebun Berdaya mulai didengar oleh dinas ketahanan pangan, dan akhirnya mendapat bantuan berupa bibit tanaman sebanyak  1200 bibit.

3. Sosialisasi Warga

Kebun Berdaya terus disosialisasikan pada masyarakat untuk mulai berkebun di rumah. Bli Mantra dan tim juga mengajarkan bagaimana membuat pupuk organik, membuat workshop alternatif kompos untuk berkebun. Jika tidak memiliki lahan, warga bisa melakukan dengan polybag dan diberikan instruksi bahwa 1 polybag dapat ditanami sayur dan bumbu-bumbu serta rimpang.

Dari benih yang disemai dari hub-hub, baru kemudian disebar ke masyarakat dalam 1 planter bag, lengkap dengan tanamannya. Hasilnya bisa dinikmati oleh siapapun. Warga juga melakukan pengontrolan sampah dengan pemilahan sampah, membuat komposter komunal karena ada beberapa rumah yang tidak memungkinkan untuk membuat kompos di rumah.

Selain itu, Bli Mantra dan tim juga saat ini sedang dalam proses membuat aplikasi Kebun Berdaya. Kekuatan dari Banjar Bli Mantra adalah kolaborasi. Sekarang Kebun Berdaya sudah tidak hanya di Banjar saja, tapi juga dibuat di beberapa tempat lain dan di Lombok.

Sita Pujianto – Urban Farmer, pengajar Binus University

1. Dari Mana Mulainya?

Kak Sita mulai berkebun di balkon dengan luas hanya 12 m2, bahkan sempat numpang di depan rumah dan juga di depan masjid. Setelah ikut komunitas, baru tahu bahwa salah satu faktor kegagalan dalam berkebun adalah karena kekurangan matahari. Barulah kemudian mencoba membuat talang agar bisa menampung sinar matahari.

Setelah mendapat ilmu bahwa bertanam itu perlu sinar matahari dan media tanamnya harus bagus, baru tanaman kak Sita mulai berhasil. Dari semua yang ditanam, hampir semuanya bisa dimakan.

2. Mengapa Berkebun?

Alasan awal Kak Sita mulai menanam tanaman bukan karena lingkungan, melainkan karena kebutuhan pribadi. Kak Sita memerlukan bahan makanan organik, karena kebanyakan dimakan dalam kondisi mentah. Sebab makanan sehat itu tidak hanya bebas pestisida, tapi dari semua faktor awal kita menanam. 

3. Apa yang Ditanam?

Kenali dulu dari apa yang kita suka, keluarga kita butuh apa. Semua pasti berasal dari kebutuhan dapur kita. Kalau kita dari awal ngomongnya soal imunitas, ya kembali ke keluarga dan makanan yang kita makan. 

Kalau ditanya apakah mencukupi? Tergantung bagaimana kita menyajikan makanan di rumah. Awalnya dulu masih tambah belanja di luar, tapi selama pandemi ini, kak Sita benar-benar memikirkan apa yang akan disajikan di meja makan. Kak Sita jadi lebih berkreatifitas untuk menyajikan makanan dari bahan makanan yang ada di kebun.

Dari hasil kebun ini, bukan hanya sebagai kulkas hidup, tapi juga sebagai supermarketnya kak Sita. Jadi apa saja kebutuhan rumah, hampir semua bisa didapatkan di kebun: mulai dari bahan lalapan, sayur, bahkan obat. Dari kebun di lahan 12m2 ini, kak Sita mencoba menanam semua tanaman yang bisa dimakan. Entah itu daun, buah maupun batangnya. 

4. Bagaimana Memulainya?

Ada 3 cara awal menanam yaitu bisa dengan cara Regrow, dari Benih dan juga dari Bibit. Dari ketiga cara ini kalau bisa dicoba semua agar bisa membangun ekosistem mental. Karena biasanya jika menanam dari biji langsung, begitu gagal tumbuh langsung malas/bete untuk mencoba lagi. 

Contoh tanaman yang bisa Regrow misalnya daun bawang, seledri ataupun daun katuk. Untuk tanaman yang bisa ditanam dari benih, benihnya ini bisa kita dapatkan dari sisa konsumsi seperti tomat dan cabe, bayam ataupun kangkung. Yang terakhir adalah menanam dari bibit. Untuk menanam tanaman dari bibit, mulailah dengan jenis tanaman perennial dan tanaman yang dapat diperbanyak dengan mudah.

5. Jenis-jenis Tanaman Pangan

Kalau untuk jenis sayuran, sekarang kak Sita lebih banyak menanam tanaman-tanaman perenial, yaitu tanaman-tanaman yang bisa hidup sepanjang tahun. Dalam kondisi hujan, kekeringan dan tidak ada hama (hama tidak terlalu suka dengan tanaman perennial). Jenis tanaman ini juga ada beberapa yang merupakan superfood seperti misalnya Kelor/Moringa, Pepaya Jepang atau Bayam Brazil. Ini adalah tanaman-tanaman yang minim sekali effort.

6. Tips berkebun di masa Pandemi

Meskipun kelihatannya mudah, untuk berkebun sebaiknya dipelajari ilmunya. Misalnya seperti bagaimana memuliakan tanah, membuat media tanam yang baik, atau bagaimana membuat nutrisi dari dalam rumah. Semua yang ada di rumah bisa dikembalikan ke tanah/tanaman. Jadi berkebun adalah sebuah rantai kehidupan yang tidak berhenti.

Kemudian menanam tanaman yang paling mudah dan cepat panen. Artinya, dengan lahan yang terbatas, tanamlah yang pasti-pasti aja. Yang paling disukai oleh keluarga supaya tidak mubazir.

Selanjutya adalah menikmati proses, dimana berkebun itu ujungnya bukan panen, tapi ada proses di dalamnya. Makanan itu tersedia ketika kita mau berusaha. 

Yang terakhir adalah buat kebun menjadi tempat yang nyaman. Misalnya kita setting meeting di kebun atau tempat kumpul masak-masak bareng nanti setelah pandemi. Jadi selain untuk menghirup oksigen juga untuk healing stress.

Q&A

Rina Kusuma: kebetulan saat ini sedang banyak membantu anak-anak muda di Papua dan Maluku, karena di sana budayanya masih sangat kuat. Apakah ada tips tertentu bagaimana menggerakan movement tersebut, bahkan lintas generasi?

Bli Mantra: Mungkin ini problem kita bersama, bagaimana cara pendekatan yang tepat. Kalau ini kita harus tahu apa yang mereka suka, atau harus ada influencer untuk mengajak. Kalau di sini, kami ada 1 musisi yang kita ajak untuk melakukan sosialisasi ke anak-anak muda. Dan kita juga masuk ke sanggar. Karena anak-anak muda yang masih SMA misalnya, jadwalnya sudah penuh sekali. Makanya dari sanggar-sanggar ini kita ajak untuk kolaborasi. Kita juga ajak anak-anak untuk berkegiatan di kebun. Jadi mindset-nya, ketika mereka datang ke kebun akan selalu ada yang baru. Tidak hanya anak muda, lansia juga perlu pendekatan yang beda. Jadi untuk Lansia, kami tekankan bahwa berkebun itu adalah tentang kesehatan.

Lurik eka purwanti: masalah utama berkebun organik adalah hama. Bagaimana mengatasinya dengan cara organik. Misalnya siput/keong, bagaimana mengatasinya?

1. Sita: saya sendiri menganggap hama sebagai wujud syukur bahwa saya punya kebun. Justru kita menyediakan ekosistemnya agar mereka ada. Sebenarnya sangat sinergi. Asalkan kebun sehat, mereka bisa mengatasi sendiri jika ada yang tidak seimbang. Maka sebelum berkebun, bangun dulu ekosistemnya. Kalau ekosistemnya bagus, di kebun saya tidak pernah ada hama yang masif. 

2. Anis: hama itu seperti tamu. Jadi sebenarnya saya setuju bahwa prinsipnya tidak membunuh, kita merawat tanaman kita juga harus merawat yang lain. Banyak resep yang bisa dipelajari untuk tidak membunuh tapi sekedar mengusir. Kalau kita menyebutnya pestisida nabati. Misalnya menanam tembakau yang dikeringkan kemudian direbus dan disemprotkan ke tanaman yang terkena hama, Bisa juga dicampur dengan bawang putih. Banyak juga pestisida nabati lain yang bisa dibuat sesuai dengan hamanya.

3. Bli Mantra: sebaiknya taman beragam tanaman, jadi jika ada salah satu yang terkena hama, masih ada tanaman yang lain. 

Jess fernandes: apa yang menurut Bapak/Ibu yang merupakan faktor utama keberhasilan program dan kerjasama dengan para mitra?

1. Anis: kalau kita, menyenangi apa yang kita lakukan. Tidak semua anggota kami juga mempunyai semangat yang sama, ada yang semangatnya tinggi, ada yang tengah, tapi kita saling menghormati. Kalau di komunitas kami, biasanya saling mensupport dengan cara berbagi tanaman, didekati di mana kebunnya, atau sharing tanamannya ada apa aja. Berkebun bersama dirawat bersama-sama. Tidak ada pendekatan yang seragam.

2. Bli Mantra: kita harus cari komunitas mana yang bisa kita ajak untuk bergerak. Karena jika masyarakat diajak, harus ada contoh yang sudah berhasil dulu. Jadi kadang beberapa anggota kelompok kita ajak untuk studi banding, ditunjukkan bahwa apa yang kita lakukan sudah benar, untuk jadi motivasi mereka. Agar bisa tumbuh lagi semangatnya. Kalau dalam 1 kelompok sudah berhasil, baru kita ajak komunitas lain. Kita juga undang beberapa pejabat untuk melihat kegiatan kita. Jadi kita bergerak dulu, baru kita tunjukkan ke pejabat atau pemerintah.

Closing Statement

“Berkebun itu banyak nilai/value yang bisa dishare dan bisa dilihat, yang sebenarnya bukan hanya untuk kita, tapi juga untuk anak-anak kita nantinya. Penting sekali untuk terus memperluas jaringan, kreasi dan ide”.

Anis Hidayah – Pendiri Rumah Organik Studio Alam Indah (ROSAI)

“Mengingatkan bahwa saya coba merefleksi diri sendiri bahwa awal berkebun adalah untuk diri sendiri, jadi saya lebih concern ke kesehatan. Bisa nggak dimulai lagi dengan hal yang simple dengan mengenalkan kembali tanaman-tanaman Indonesia, agar anak-anak sudah tahu bagaimana bertahan hidup. Ada proses-proses alami yang kita suguhkan ke generasi mendatang.”

Sita Pujianto – Urban Farmer, pengajar Binus University

“Kolaborasi dan saling membangun komunikasi agar bisa lebih berdaya.”

Gede Mantrayasa – Penggiat Kebun Berdaya

“Tuhan itu sudah menyediakan semua kebutuhan hidup kita di dunia, hanya tinggal bagaimana kita memanfaatkannya dengan benar. Bagaimana kegiatan seperti ini bisa dilakukan lagi secara masif. Kalau ilmunya masih terbatas, bisa bergabung dengan komunitas. Banyak anggota komunitas yang saling menyemangati bahwa berkebun itu mudah dan bisa dimana aja.”

Warid – Kepala Prodi Agroekoteknologi Universitas Trilogi Jakarta

Wah ternyata kegiatan berkebun selama Pandemi ini tidak hanya tanaman hias saja yang digandrungi ya, banyak juga yang berkebun bahan makanan dan sayur mayur agar bisa menumbuhkan ketahanan pangan di rumah dan tidak perlu bergantung lagi pada petani. Apakah kamu juga punya kebun sayur di rumah? Yuk sharing di kolom komentar dan jangan lupa share juga di social media kamu. Mention @plantstorycom , penyelenggara acara @terasmitra @waridizm @satyaikasari dan juga para narasumber @anishiedayah @kebunberdaya @sitapujianto yaa..

PS: Kalau kamu tahu atau punya acara yang berkaitan dengan tanaman, boleh ajak PlantStory sebagai media partner. Silakan email ke hello@plantstory.com dengan subject: Media Partner.

0 Comments

Registration isn't required.



By commenting you accept the Privacy Policy

Latest Articles